Fenomena Ring Pada Indonesian Chalcedony By Jesse Taslim GRI (GIA Alumnus)*

Jesse Taslim GRI Lab (GIA Alumnus)

Jesse Taslim GRI Lab (GIA Alumnus)

Ketika mengunjungi sebuah kontes batumulia di pulau Borneo, ada seseorang yang menyapa untuk mengenalkan sebuah ‘varian’ baru dari Chalcedony yang memiliki ‘fenomena’ seperti ada lingkaran di daerah girdle (pinggang). Namanya mas Ari atau lebih dikenal dengan Ari Kandidat, dengan antusiasnya beliau memberikan penjelasan mengenai bagaimana fenomena ini bisa muncul di Chalcedony dan cukup membuatku tertarik untuk memiliki dan menganalisanya.

Ari Kandidat dari Pacitan, Jawa Timur

Ari Kandidat dari Pacitan, Jawa Timur

Fenomena O Ring pada Pacitan Chalcedony Supreme Sunset

Fenomena O Ring pada Pacitan Chalcedony Supreme Sunset

Kurang lebihnya mas Ari menjelaskan bahwa spesimen ini sama dengan varian yang bisa menghadirkan fenomena ‘Chatoyancy’ di Chalcedony, namun dipoles dengan metode yang berbeda, kemungkinan perbedaannya di arah mana inklusi di dalam dan bagaimana menghadapkan table/meja Chalcedony ini.

12884490_1285503084811146_1730978312_n
Sepulangnya dari Borneo, sekitar 1 minggu setelah pertemuan tersebut, aku di tag di Facebook oleh seorang yang bernama Rinanto Dwi Hantoro, dan kebetulan postingannya juga mengenai fenomena O-RING diCHALCEDONY, sehingga membuat saya lebih bersemangat lagi untuk membuat artikel mengenai fenomena ini.

12380602_1285503031477818_881405993_n

Akhirnya dengan pengharapan yang tinggi, saya meminta beliau untuk menuliskan bagaimana gambaran sebagai pelaku pasar dalam menguraikan fenomena ini, dan akhirnya beliau pun bersedia dan ulasannya dapat dibaca dibawah:

Rinanto Dwi Hantoro, SH. Bendahara Umum Precious Indonesia, Perajin dan Seller

Rinanto Dwi Hantoro, SH. Bendahara Umum Precious Indonesia, Perajin dan Seller


Ulasan dari Rinanto Dwi Hantoro
Seiring perkembangan kemajuan perbatuan di tanah air, hadir satu jenis batuan lokal yang dimodifikasi sehingga terlihat sangat unik. Para gemslover tentu telah sering mendengar, melihat, bahkan sampai dengan menjadikan batu jenis ini sebagai bagian dari koleksi pribadinya. Biasa disebut Chalcedony Fenomena O-Ring (Know as ” Keladen Fenomena O-Ring ” in the trade Indonesia Local Market ).

12421442_1285499468144841_1733832956_n

Dalam tekhnis penggosokannya tergolong memiliki tingkat kesulitan tersendiri dibanding bentuk (shape) gosokan batu yang sudah pernah ada sebelumnya. Secara tekhnis dalam penggosokannya memerlukan keahlian ataupun ketelitian yang cukup tinggi.

Deskripsi batu jenis ini adalah:
– Berbentuk bundar yang simetris dengan kubah bagian atas dan bawah (Double Cabhocon);

– Terdapat bias sinar /cahaya yang tajam di sekelilingnya, terlihat seperti penampakan fenomena gerhana matahari (untuk Yellow, Orange, Red Chalcedony); dan tampak seperti fenomena gerhana bulan (untuk White/Colorless Chalcedony).

– Untuk fenomena O-Ring tersebut terbagi menjadi 2; yakni Single O-Ring dan Double O-Ring. Yaitu terdapatnya satu garis tajam yang menyala dan mengelilingi tepi batu (Single O-Ring). Dan terdapat dua garis tajam yang menyala dan mengelilingi tepi batu bagian terluar dan bagian dalam yang tampil berdekatan dan berdampingan (Double O-Ring).

12380602_1285503031477818_881405993_n

Seiring waktu berjalan maka saya mencoba untuk membuat fenomena “Triple O-Ring” dengan tampilan yang baru dengan harapan bisa menggugah selera pasar agar tidak terlihat seperti monoton. Mengenai bahan baku tersebut biasa digunakan jenis Chalcedony dengan tingkat clarity yang cukup baik. Artinya semakin tinggi tingkat clarity nya maka semakin maksimal pula fenomena O-Ring yang dihasilkan.

Untuk menghasilkan bias cahaya/fenomena O-Ring yang berkualitas yaitu bahan yang bebas dari serat ‘kura-kura’ maupun serat ‘sulaiman’ (para gemslover pastinya sudah paham istilah ini).  Ini menjadi syarat mutlak untuk menghasilkan fenomena O-Ring yang maksimal (menurut pengalaman pribadi).

12498944_1285503564811098_1447594091_n

 

Beberapa cara atau tekhnis penggosokan/pemolesan batu tersebut adalah:

– Untuk bahan yang mengandung genggang dalam pembuatan fenomena O-Ring ini biasanya pada saat pemotongan bahan (membuat pola kasar) maka arah genggang dikondisikan mendatar (horisontal) dan biasanya diposisikan di bawah, biasa tekhnik ini disebut dengan istilah “karpet” (di Pacitan Jawa Timur), dengan orientasi tetap menimbulkan fenomena O-Ring walaupun pada bahan yang beserat kura-kura.

12207619_10204717693697250_668646470_n

– Namun ada juga yang menyisakan genggang/serat sulaiman di bawah batu setipis mungkin, terlihat seperti satu lapisan/layer tipis yang sengaja dibiarkan tanpa bertujuan untuk menghilangkannya –> istilah “karpet”, orientasinya untuk menimbulkan efek/fenomena Double O-Ring dengan 2 warna sinar ring yang berbeda.

12067118_1285631868131601_577736337_n

Misalkan ingin membuat fenomena O-Ring terluar adalah warna orange dan O-Ring bagian terdalam adalah berwarna putih. Pada contoh tekhnik ini biasanya menggunakan bahan putih atau bahkan colorless yang mempunyai sebidang layer/lapisan warna lain di permukaan bawah batu dengan dimensi lapisan/layer yang cukup kecil dan juga tipis. Layer/lapisan warna ini sengaja tidak dihilangkan, dengan orientasi menghasilkan fenomena O-Ring berwarna orange di bagian tepi terluar batu. Tentunya fenomena O-Ring yang berwarna putih akan berada di bagian dalam.

12804415_10204717698497370_570262602_n

Tidak menutup kemungkinan untuk yang berserat kura-kura juga bisa dibuat fenomena O-ring dengan syarat tetap harus menggunakan bahan yang cukup bening (tingkat clarity nya cukup baik). Tingkat clarity pada bahan yang baik tentunya akan menghasilkan fenomena O-Ring yang cukup baik pula.

12476078_1285631841464937_676470155_n

Demikian ulasan mengenai fenomena O-Ring Chalcedony dari mas Rinanto, tidak menutup kemungkinan akan adanya penambahan keterangan, dimana kebetulan fenomena ini cukup baru ditemukan dan sedikit saya ingin tambahkan foto-foto inklusi dari sample yang saya dapatkan.

Inklusi pada Fenomena O Ring pada Indonesian Chalcedony (sample King Keladen Chalcedony - Pacitan Jawa TImur)

Inklusi pada Fenomena O Ring pada Indonesian Chalcedony (sample King Keladen Chalcedony – Pacitan Jawa TImur)

a654-20160321_115059 a656-20160321_115329 a659-20160321_115447 a661-20160321_115518 a663-20160321_115611
Inklusi heat wave (saya menyebutnya demikian) adalah inklusi yang memang didapatkan dalam Chalcedony yang memiliki ‘fenomena’ cats eye maupun ‘O-Ring’ Sesuatu yang ‘seragam’ di dalam sebuah media, jika di sorot sinar cahaya, maka biasanya akan memantulkan lagi, Jika pemotongannya memang pada tempatnya, maka bisa mnghadirkan sebuah ‘fenomena’ tinggal inklusi tersebut, apakah termasuk yang lumrah atau tidak.

Jesse Taslim from GRI Lab (GIA Alumnus)

Jesse Taslim from GRI Lab (GIA Alumnus)

Jesse Taslim (Divisi Litbang Precious Indonesia)

Born in 1978 and has been with the gemstone business since 1998. He has visited the countries that are considered as the center of World’s gemstone such as Sri Lanka, Burma, and Bangkok. After having experience with gemstone for 12 years, he becomes a very qualified gem dealer who understands very well the market in Indonesia. He decided to intensify his knowledge in Gemology by enrolling in GIA Bangkok with his partner Mr. Adam Harits and Mr. Mingma Sherpa and graduated from GIA on campus program education on 2011. Apart from that he has also been appointed as editor for several books which discuss gemstone thoroughly, writes article in tabloids and surely he is well experienced in market and educative in gemology.

Standarisasi Penilaian Batu Mulia Indonesia Sebuah Upaya Sebagai Panduan. Oleh : Mas Picis Rojobrono (Eko Suryo Putro)

11050644_10206329087727171_4836762390026879370_n

Asosiasi Batu Mulia Indonesia (ABAMI) dengan Menteri Perindustrian Saleh Husein

Assalamualaikum wr wb.

Banyak yang sukar menerima keputusan Juri Kontes dan banyak yang belum memahami apa itu Kontes. Kontes Batuan Indonesia ditujukan sebagai ajang Silaturahmi secara Positif membangun Dunia Hobby Batu Mulia.

Dimana diharapkan dengan Kontes maka ada perbaikan Kualitas dalam penggarapan Batu Mulia, dari gosok polesnya, dari pengemasannya dari banyak hal yang bisa ditingkatkan.

Juara di kontes satu belum tentu juara di kontes lain, Karena di Meja Penjurian saingannya (pesertanya) pun berbeda. Juga Juri yang menilai. Kemudian bagaimana Standard Penilaian.

Standard Penilaian pun beragam, ada yang dikomunikasikan dengan Panitia apa saja Kriteria yang Dilombakan dan ada yang mutlak Keputusan Juri. Apakah sama Menilai Bebatuan Mulia yang sudah lebih dahulu berkembang Kadar Keilmuannya, dengan Bebatuan Mulia Indonesia yang baru berkembang dan masih mencari Standard Kelimuan dan Penilaiannya, tentunya berbeda.

Penilaian Bebatuan yang diterapkan untuk Cutting dengan Cabochon pun berbeda, juga untuk Kelas Fenomena yang beberapa waktu lalu merupakan terobosan di Pacitan diadakan.

Misalnya Kriteria: Color, Clarity, Carat, Cutting bisa diterapkan sebagai Dasar dalam Penilaian beberapa Kriteria Lomba Bebatuan. Namun tidak bisa diterapkan mentah-mentah atau dipukul rata dalam penilaian, dimana Hanya Indonesia saja Sebagai Pelopornya.

Misalnya saja dalam Penilaian Berbeda pada Kelas Fenomena pada Chalcedony, kemudian Kelas Gambar, Kelas Susup, dan Kelas Djunjung Derajat. Pada penilaian kriteria ini maka Penilaian Mounting/Jewel (Ikat) dikesampingkan, karena yang kita nilai ialah Utamanya Ciri Khas pada Batuan tersebut.

Dalam Kelas Fenomena pada Chalcedony kemarin yang dilombakan ialah Kelas Fenomena Punggung Kura-Kura, Fenomena Ring…. ada Kelas seperti Kelas Fenomena Cat’s Eye dan Kelas Pelangi (Iris Agate Chalcedony) yang belum bisa diadakan karena masa persiapan dan Sosialisasinya kurang.
Kelas Fenomena Djunjung Derajat

Yang Dinilai dalam kelas ini ialah utamanya Kejelasan Gambar (Djunjung Derajat) terlebih dahulu, diperhatikan Contrast-nya yang  bagus. Kemudian beranjak Warna, yang dinilai ialah Keindahan/Kompleksitas warna. Bagaimanapun Djunjung Derajat yang baik memiliki komposisi warna yang menarik.

Misalnya menurut kami sesuai Filosofis Djunjung Derajat ialah untuk Menaikkan Derajat Penggunanya, maka Keistimewaan warna-warna seperti Emas atau Garis Emasnya memiliki keutamaan dan energi untuk Kemuliaan pemakainya. Atau warna-warna kuat seperti Merah (Kewibawaan), warna langka seperti Biru (Kedamaian) atau Hijau (Kesejukan).

Kemudian ialah Posisi Gambar (Posisi Djunjung Derajat). Untuk Sudut Djunjung Derajat yang baik ialah bila sudutnya membentuk siku 90 derajat. Tentunya ada pemakluman, asal Garis Naik Derajatnya tidak terlalu Renggang atau tidak terlalu sempit. Juga Rapi antara masing-masing lapisan Garisnya.

Kemudian Jumlah Junjung Derajat, Idealnya ialah jumlah-jumlahnya Ganjil, seperti 3, 5, 7 dan selebihnya, namun ini Tidak Kaku Diterapkan. Kemudian Posisi Potongnya ialah Proporsional di Tengah. Dan Imbang antara bagian bawah gambar dan atas gambar Djunjung Derajat.

Bisa saja garis Genap menjadi pemenang jika memang indah, proporsional dan langka, misalnya sebuah Djunjung Derajat yang imbang, rapi, memiliki warna Emas di sebagiannya, memiliki garis Emas, kemudian terselip garis Biru. ini adalah kondisi yang langka, dengan Artian: Pembentukan warna-warni mineral dalam bebatuan, dengan garis yang Rapi adalah suatu kondisi yang sangat sulit terjadi di Alam.

Kriteria-Kriteria Penilaian ini tidak Kaku Diterapkan, bagaimanapun juga Juri memiliki Pengalaman dan Cita Rasa Seni, dan dengan Dialog, Diskusi atau Musyawarah antar Juri, Penilain bisa berjalan tertib dan dipahami masing-masing Anggota Juri. Kriteria-Kriteria ini kemudian diseleksi dan dipilih oleh Dewan Juri, ada suatu penilaian yang kompleks dalam menyaring para Nominator dan Juara.

 

Kelas Fenomena Punggung Kura-Kura

Pada Kriteria ini yang dinilai ialah serat yang menyerupai fenomena Punggung Kura-Kura (Turtle Shell). Dalam perkembangannya akan bercabang menjadi fenomena Telur Katak, Berawan, 3 Dimensi, Berpelangi, dan sebagai macam.

Lalu bagaimanakah yang dinilai. Tentunya yang dinilai ialah Keunikan, susahnya diketemui (kelangkaannya). Misalnya saja kami menempatkan fenomena Punggung Kura-Kura yang seperti memancarkan sinar 3 Dimensi (3D). Kemudian beralih ke Warna, dimana Komposisi semakin banyak warna semakin menambah penilaian.

Namun penilaian-penilaian ini bisa berubah di setiap Kontes dan Keadaan batu-batu yang naik ke Meja Penjurian. Bukan berarti Fenomena Khusus Kura-Kura harus dipraktekkan Kaku, karena bisa jadi ada juga Punggung Kura-Kura yang membentuk Gambar tertentu seperti Sosok Makhluk Hidup, atau dinilai dari kelangkaan Warnanya sangat sukar menemui Batu Berpunggung Kura-Kura dengan Warna Specifik tersebut.

 

Kelas Gambar  (Tokoh/Manusia/Binatang/Panorama Pemandangan/Huruf/Angka)

Pada Kelas ini sama hampir sama dengan beberapa kelas sebelumnya dimana Ikat (Mounting/Jewel) tidak dinilai. Karena penilaian pada hal tersebut justru akan mengurangi Esensi atau Estetika Seni Batu itu sendiri.

Yang pertama, ialah Kejelasan Gambar. Banyak Kontestan salah menilai darimana Juri Mengambil Sudut Penilaian. Dalam Kelas ini Batu harus dipresentasikan Tanpa Menggunakan Judul. Banyak yang mengira Juri tidak mengetahui gambar, namun pada kenyataannya Juri Memahami. Namun dalam menilai Batu Gambar yang Baik ialah berangkat dari Penglihatan Masyarakat Awam. Yang tidak mengerti Seni atau sudah Dapat Melihat dan Menebak Gambar tanpa memerlukan waktu yang lama. Misalnya mengapa gambar tertentu yang sederhana bisa mengalahkan Gambar yang Kompleks. Karena masyarakat awam sudah dapat menebaknya tanpa memerlukan usaha berlebih. Dari pemahaman inilah Juri berangkat memulai penilaian.

Kejelasan gambar dalam hal ini juga menilai Kontrast-nya gambar dengan Background (ruang warna di sekitar gambar). Jika gambar berwarna Coklat Medium, kemudian sekelilingnya berwarna Coklat Muda maka akan menyulitkan Tertangkapnya Kejelasan Gambar. Atau berwarna Putih, namun sekelilingnya berwarna Putih agak ke warna Krem (Cream).

Kemudian penilaian beranjak kepada Proporsional Gambar. Misalnya saja bila Gambarnya Wajah Manusia atau Kepala Hewan, yang dinilai ialah proporsionalnya bagian wajah atau bagian kepala. Jika Keseluruhan maka yang akan dinilai ialah Proporsional Kepalanya, Lehernya, Rambutnya, Tanduknya, Belalainya, Pundak, Lengan, Tangan, Pinggang, Kaki, Kelengkapan Anggota Tubuh.

Kemudian kepada Komposisi Warna, semakin banyak warna pada Batuan Gambar memberikan Nilai Lebih, namun bukan yang dominan dalam Penilaian.

Lalu beranjak ke Posisi Gambar. Pada penilaian ini dinilai ialah Keutuhan Gambar dan Posisinya. Apakah sempurna terletak di Tengah atau Terpotong Gambarnya. Misalnya mengapa gambar Itik (Anak Ayam) bisa menang disandingkan dengan gambar Ikan Arwana yang sempurna ? Bisa jadi gambar Arwana terpotong, hanya memperlihatkan kepala hingga ke badan, sedangkan ke Ekor Terpotong. Atau misalnya Gambar Ikan Dory Sempurna masih bisa dikalahkan gambar Itik, bisa jadi Ikannya tidak memiliki Proporsi seperti Insang dan Sisiknya ukurannya tidak sesempurna saingannya.

Misalnya saja dalam Menilai Tokoh atau Manusia, apakah Gambar Separuh Badan yang Menang ataukah Gambar yang Utuh. Ini Tergantung Kejelasan Gambar, Kekuatan Garis atau Komposisi Warna dan Posisinya.

 

Kelas Susup (Susup Unik dan Susup Sodo Lanang)

Kelas Susup (Unik dan Sodo Lanang). Pada kelas ini dinilai ialah Kejelasan Gambar Susup, Komposisi Warna, Keunikan atau Estetika Seni, Posisi Susup serta Kelangkaannya (susah ditemui).

Susup pada Batuan Indonesia berkembang sudah lama jauh sebelum masa Trend Batuan menguat. Ada berbagai Fenomena seperti Susup Tunggal, Susup Dua, Tiga dan Lebih banyak lagi.

Pada kelas ini maka yang dinilai paling Utama ialah Keunikan Susup dan Kesempurnaannya. Ada yang unggul karena Susup Tunggalnya membentuk Sebuah Pusaka seperti Pedang, Tombak, Menara, Anak Panah, Bambu, dan sebagainya. Namun ada juga yang unggul dalam Jumlahnya yang lebih banyak dan juga membentuk Gambar seperti Deretan Menara Masjid, Menara Gereja, Gedung-Gedung, Monumen, Sosok Tokoh, dan bermacam juga.

Lalu dimanakah Panduannya. Tentunya agak sedikit sulit, namun pada dasarnya bisa dilihat kepada Kesempurnaan Susup tersebut membentuk sebuah Gambar yang paling utama. Misalnya saja ada Susup yang menang karena membentuk gambar sebuah Hutan Eucalyptus… dimana Susupnya bercabang, rapi, memiliki Dasar Tanah, Warna Kayu yang Putih, serta Dedaunan. Ada yang menang karena Ada Susup Tunggal yang membentuk Gambar Pedang Tiongkok yang Sempurna, dan ada yang menang karena Susupnya membentuk Dua Pohon Cemara yang memiliki Seni dimana satu Pohon berukuran besar dan satu pohon berukuran kecil dengan Jarak dan Proporsional yang Sangat Sempurna.

Tentu saja Yang Dinilai Oleh Dewan Juri yang ada di Meja Penjurian. Dimana panduannya bisa berubah-ubah tergantung diskusi atau Musyawarah Dewan Juri. Dalam memandang segala Aspek dari Susup.

Susup terjadi karena ada rongga di dalam bebatuan yang membentuk relung tertentu. Bayangkan keindahan dan estetika seni karya Pencipta, saat rongga di dalam bebatuan tersebut terisi oleh material lain dan membentuk suatu gambar yang Bahkan Beberapa di Antaranya Demikian Sempurna.

 

Kelas Fenomena Ring

Jika sebelumnya banyak negara dan Asosiasi Batuan Internasional menerapkan Panduan bagaimana sebuah Cutting Brilliant dinilai. Maka ada sebuah Metode Khusus penggosokan Cabochon yang menimbulkan fenomena Ring pada Batuan Chalcedony. Hal ini bisa didapatkan dari Teknik Penggosokan maupun Keistimewaan Bahan Nunggal (Tunggal) yang didapat dari Alam. Biasanya berbentuk Kerikil Tunggal. Pada Penggosokan ini para Perajin memanfaatkan Teknik Mengupas Batu secara perlahan. Sehingga menyertakan sedikit Warna pada Kulit dan Perbedaan pada Warna (Gradasi) dalam menimbulkan Efek Ring.

Sehingga wajar ada Fenomena Ring Tunggal, Ring Ganda (Double), Ring Tiga (Triple). Bahkan ada yang menimbulkan efek Ring dan di dalam Ring ada penampakan Serat Punggung Kura-Kura atau bahkan juga ada yang di Tengah Ring menimbulkan Fenomena Cat’s Eye.

Pada kelas ini yang dinilai ialah Jumlah Ring, Kejelasan Warna Ring dan Keunikannya.

Kelas Anggur Barjad (Fire Chalcedony)
Penilaian pada Kelas Fenomena Anggur Barjad (Fire Chalcedony) ialah tidak terletak pada Clarity dan Colur, namun pada Ciri Keindahan Fenomena Barjadnya (Inden Cahaya) di dalam Anggur.
Misalnya saja kami menggariskan bahwa keutamaan barjadnya ialah Merah, Orange, Kuning dan Putih, setidaknya demikianlah urutannya.

Namun ini Tidak Kaku Diterapkan…. karena selain memiliki Fenomena Barjad, kemungkinan lain ada nilai-nilai plus pada sebuah Chalcedony Barjad. Misalnya saja memiliki juga ciri Serat Kura-Kura atau bahkan Cat’s Eye.

Jadi ada sebuah Kolom Penilaian dalam Setiap Penilaian Seni Batu Indonesia. Dan berbicara seni, tentulah ada Kriteria: “Estetika Seni”.  Dan menurut pemahaman Filosofis Seni, yang sukar dicari standard yang sama dalam setiap benak, namun memiliki Hukum yang bisa dirasakan ialah: “Seni menimbulkan Gairah (Passion) bagi yang yang melihatnya…..” Dan ini merupakan Domain Kemampuan Dewan Juri yang dipercaya memiliki kemampuan dalam hal tersebut.

 

Kelas Batu Mulia Warna Dasar pada Chalcedony

Dasar Penilaian tentunya banyak yang mengerti bahwa secara umum ialah Warna (Colour), Kejernihan dan Kebersihan (Clarity), Berat (Carat) dan Cutting (Penggosokan dan Pemolesan).

Beberapa hal yang ingin saya tambahkan dalam Penilaian Batu Mulia dengan Warna ialah. Pada potongan Cembung (Cabochon). Dunia Batuan Mulia Indonesia tidak bisa menyamakan Penilaian ini hanya didasarkan dengan kriteria tersebut. Ini Dikarenakan: Bentuk dan Sifat dari Pengolahan dengan Bentuk Cembung memunculkan Kilap (Luster) yang agak berbeda dengan ciri Umum yang ditimbulkan dari Bentuk Batu Mulia yang Di Cutting atau Facet Brilliant.

Bentuk Cabochon mencuatkan beberapa Fenomena yang menyerupai Cat’s Eye misalnya. Dan juga pada Batuan Indonesia pada Segi Clarity, saya berpendapat Tidak Bisa menyerap atau menerapkan penilaian kadar Clarity dengan semena-mena. Karena pada Bentuk Cutting yang dicari ialah Kualitas Transparant Bebas Serat. Sedangkan pada Material yang Bersifat Translucent, Serat atau Sidik Jari pada Batu Mulia Indonesia justru menambah Eksotik dan Keunikan Sendiri.

Misalnya saja ada yang Lusternya seperti Cat’s Eye dan ada Luster yang seperti Berapi-Api menyala, atau Fenomena pinggirnya membentuk Cahaya Melingkar atau Ring, dan bahkan ada yang menimbulkan cahaya seperti Barjad atau cahaya dalam yang berwarna Merah, Orange, Kuning atau Putih.

 

Batu Kontes, Batu Kolektor dan Batu Mahal

Banyak para penggemar Batu Mulia Indonesia dan para Peserta Kontes, belum menyadari dan belum bisa memilah. Mana Bebatuan Kontes, Mana Bebatuan Kolektor (Collector Item) dan Batu Mahal.

Batu Kontes yang dicari ialah Kesempurnaan. Bukan Kesempurnaan menurut para peserta, namun Sempurna (secara Subyektif) penilaian oleh Dewan Juri. Dan Dewan Juri terdiri bukan dari satu (1) orang saja. Melainkan beberapa orang dengan latar belakang yang kurang lebih sama, namun memiliki kekhususan sedikit berbeda dan selera yang tidak sama. Oleh karena itu disebut sebagai Dewan Juri.

Banyak yang tidak terima Batu A atau B juara di Jakarta, namun ketika dilombakan di Surabaya atau Medan kalah. Atau Batu yang Juara di Tingkat Nasional bisa dikalahkan dengan Batu Lain di tingkat Kabupaten. Bahkan Peringkatnya bisa berbalik Batu A juara 1 di kontes di Kalimantan dan Batu B nominasi, di Batam Batu A jadi nominasi  dan yang B malah jadi Juara 2.

Maka kita harus Arif dan Bijaksana serta harus Memahami, bahwa Tempat berlangsungnya kontes berbeda, waktu pelaksanaan berbeda ini berarti bisa jadi batu yang bagus-bagus belum tentu diikutkan semua pada kesempatan yang sama di kontes tertentu, susunan Dewan Juri-nya berbeda, otomatis memiliki dasar Panduan Penilaian Berbeda.

Batu Kolektor yang dicari ialah Kekuatan Tema. Biasanya Keunikan atau Kelangkaan Fenomena atau Gambar yang sebenarnya memiliki suatu Nilai Yang Sulit Diukur. Dikarenakan dirasakan berbeda-beda oleh para kolektornya. Misalnya di suatu kontes gambar Naga Hijau Lumut dikalahkan oleh gambar Ikan Arwana yang melalui penerapan penilaian kontes memang menang. Namun dalam kelangkaanya gambar Naga ini tadi menang sehingga untuk Koleksi harganya lebih mahal, walaupun dalam kontes Kejelasan, Proporsi Warna dan Posisi gambar dikalahkan. Ini tentu menyangkut penghargaan dalam Hobby yang Tidak Bisa Diberikan Standard. Menyangkut selera tertentu yang merasakan Kaitannya dengan gambar tersebut.

Batu Mahal, tercipta dari Kelangkaan Bebatuan. Hal ini menyangkut banyaknya permintaan dan kurangnya pasokan. Mahal namun dalam kontes tidak bisa menjadi Juara, bisa jadi memenuhi selera kolektor.

 

PENUTUP

Tentunya semua Dinilai dan Dikoreksi serta mengalami Proses Diskusi antar Dewan Juri. Karena Penilaian Tanpa Komunikasi Lebih mendorong Penilaian Menuju Target yang Keliru dan tidak semata bisa didasarkan pada Angka yang Kaku (ada dialog dalam memberikan nilai).

Musyawarah Dewan Juri. Dalam Penilaian saya lebih memilih Proses Dialog Terbuka Antara Dewan Juri. Agar Sepakat dan Dapat Dipertanggungjawabkan Bersama Hasil Penilaiannya. Tidak ada Penilaian Terpisah atau Salah Seorang Juri Memiliki Hak Veto.

Mengapa Standarisasi Penilaian Batu Mulia Indonesia masih berbeda-beda. Sesungguhnya kita harus bersyukur, dalam rentang jangka waktu 2012 hingga 2015 ini, dalam waktu yang sangat singkat betapa menakjubkan Animo dan Perkembangan Batu Mulia Indonesia melewati Beberapa Tahap Yang Menakjubkan.

Sehingga kita masih perlu dan sabar menunggu proses yang berlaku di lapangan dan dibalik meja. Bahwa perkembangan ini tengah kita letakkan Pondasi-nya. Dimana banyak Ketimpangan ilmu Pengetahuan dan Penggiringan Selera yang terjadi pada tingkat Internasional belum dapat dipenuhi.

Kita harus bangga, justru Seni Batu Mulia tengah mengalami perubahan yang dimulai dari Indonesia, dimana memiliki Pangsa Pasar yang besar. Memenuhi bidang Keilmuan dan Seni Batu Mulia yang kosong tidak diindahkan Dunia. Kita Dunia Batuan Mulia Indonesia yang memulai Seni Batuan Gambar, berbagai macam Fenomena pada Chalcedony, Keindahan Komposisi Warna yang Proporsional maupun Abstrak.

Ini menunjukkan Cita Rasa, Seni Budaya yang ditanamkan Tuhan Pencipta kepada para Perajin, Pelaku dan Penikmat Seni Batu Mulia yang sebenarnya Telah Melampaui Pemahaman Internasional.

Dan Itu Bermula dari Komunitas Batu Mulia Indonesia.

Wassalamualaikum wr wb.

Salam Asti Anindya Nusantara – Viva Precious Indonesia

*Asosiasi Batu Mulia Indonesia (ABAMI)

Pencatatan Penamaan dan Pengklasifikasian Batuan Nusantara (PPPBN)

Precious Indonesia (Permata Indonesia)

Sejarah Penamaan Bangsawan Merah (Red Baron) Sesungguhnya

a-red-koleksi-sby

Bangsawan Merah (Red Baron) Pacitan Natural Kualitas Alami

Bangsawan Merah (Red Baron) Pacitan Natural Kualitas Alami

IMG_4681

Koleksi Mas Picis Rojobrono

Surat Terbuka Hak Jawab Mengenai Keberatan Kesalahan Isi Penerbitan Berita Oleh Majalah IGS Edisi Red Baron  (seperti sudah saya sampaikan di Akun FB: Majalah Gemstone, Arifin Elang Permana, Tutur Yoga Igs dan Yani Sobirin Igs)

Tanggal 8 Juli 2015 12:20 pm
Untitled-1

11267060_1636256659948454_4106280377368521197_n

HAK JAWAB:
Untuk pemberitaan Majalah Gemstone (IGS) mengenai sekelumit kalimat bahwa Red Baron berasal dari Reddish Brown… dengan ini saya Mempergunakan Hak Jawab Saya dengan memberikan INPUT berdasarkan Kebenaran yang sebenar-benarnya… bahwa Penamaan Red Baron bukan berasal dari plesetan Reddish Brown… Red Baron merupakan Penamaan dari saya untuk menyebut Carnelian Chalcedony dari Pacitan yang Memiliki Kualitas Baik… sebenarnya merupakan terjemahan dari Bangsawan Merah (Bangsawan Yang Tersingkir) yakni Para Keturunan Majapahit dengan Alur Keturunan Bhre Kertabumi Wijaya yaitu Pangeran Buwono Keling… sebagai Bangsawan yang tersingkir oleh Terbitnya Demak. Kata-kata Baron sendiri dalam Bahasa Jawa sudah Diserap Lama artinya sebagai BANGSAWAN… ini bisa dilihat dalam Lakon Ketoprak BARON SKEBER yang pernah terdampar di PANTAI BARON di DIY. Jadi bukan karena Plesetan Reddish Brown…. karena Red Baron ialah Pengemasan Baru untuk Batu yang sebelumnya disebut Akik Darah Pacitan atau Merah Pacitan. Terimakasih.

Salam Dahsyat IGS – Kekayaan Nusantara Sebagai Pemersatu
Tertanda Mas Picis Rojobrono

Untitled-igs

Ps: cuma meluruskan saja, salah satu keturunan dari Pangeran Buwono Keling ini ialah Presiden ke 6 RI, yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Makam Pangeran Buwono Keling bisa diketemui di Kebon Agung… mengapa disebut Bangsawan Merah (Bangsawan Tersingkir) karena setelah membuka Alas (Hutan) Pacitan menjadi tempat yang layak didiami…. Pangeran Buwono Keling dikejar oleh para Senopati Demak dan akhirnya dikeroyok. Karena Ditakutkan Hidup Lagi… Kepala, Badan dan Bagian Bawah dipisah….. pisah dengan aliran Sungai, agar tidak hidup lagi. Sekian Penggalan Riwayat Filsafah Penamaan Red Baron oleh saya. Trims

Untitled-arifin elang permana
Untitled-tutur yoga
Untitled-yani sobirin

Bangsawan Merah (Red Baron) Chalcedony Pacitan

Bangsawan Merah (Red Baron) Chalcedony Pacitan

BANGSAWAN MERAH – RED BARON CHALCEDONY

Bangsawan Yang Tersingkir, diambil namanya dari Kekalahan Raja Majapahit Bhre Kertabumi Wijaya. Dimana kemudian penerusnya Pangeran Buwono Keling harus melarikan diri menghindari kejaran Pasukan Demak.

Dalam Pelariannya ke Selatan, terhadang Samudera Indonesia, Pangeran Buwono Keling akhirnya menetap dan membuka Alas (Hutan Pacitan).

Selang beberapa lama, akhirnya tertangkap dan dikeroyok. Pangeran Buwono Keling tubuhnya dipotong jadi 3 Bagian dan dikuburkan terpisah, karena takut hidup kembali dikarenakan Ilmu Pancasona-nya. Kuburannya dipisahkan Sungai Keladen.

Keturunan Pangeran Buwono Keling terus ikut andil dalam mengembangkan wilayah Pacitan turun-menurun dan menghasilkan beberapa pemimpin terkemuka, diantaranya Presiden RI sekarang.

Bangsawan yang tersingkir diartikan juga sebagai terpinggirkannya Dunia Batuan pacitan selama ini. Walaupun batuan Pacitan memiliki Kualitas Baik, namun seakan tersingkir dari Peta Percaturan Batu Nasional selama ini.

Padahal pada kenyataannya sudah jadi incaran para pelaku batuan Asing. Ini yang menyebabkan saya memberikan nama kepada Variant Chalcedony Pacitan yang berwarna Kemerahan dengan nama Red Baron.

Koleksi Akik Permata Batu Mulia SBY dan Ibu Ani Yudhoyono

Berikut beberapa koleksi batu mulia Permata Indonesia koleksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Ani

King Keladen dan Queen Ndasar Chalcedony yang ditambang dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

King Keladen dan Queen Ndasar Chalcedony yang ditambang dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

King Keladen Carnelian Chalcedony - Red Baron Koleksi Bapak Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, diberikan saat kunjungan Budaya di Pacitan yang diselenggarakan di Alun-Alun Pacitan 2013.

King Keladen Carnelian Chalcedony – Red Baron Koleksi Bapak Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, diberikan saat kunjungan Budaya di Pacitan yang diselenggarakan di Alun-Alun Pacitan 2013.

Solomon SBY

saat memberikan koleksi batuan Pacitan untuk Edhie Baskoro Yudhono dan Ibu Aliya

saat memberikan koleksi batuan Pacitan untuk Edhie Baskoro Yudhono dan Ibu Aliya

Seni Batu Mulia Indonesia by Mas Picis Rojobrono

Batu mulia Indonesia memiliki banyak keunggulan dibandingkan permata asing. Diantaranya ialah Untreatment, Seni Pembentukannya berupa pemilihan tema dan kelangkaannya untuk kualitas Supernya. Beberapa di antaranya bisa dilihat sebagai berikut:

Indonesian Natural Agate Chalcedony Untreatment Bermotif Gambar Sunan Kalijaga

Indonesian Natural Agate Chalcedony Untreatment Bermotif Gambar Sunan Kalijaga

Red Baron (Carnelian Chalcedony) dari Ponorogo bermotif gambar dalam Kembang Wijayakusuma atau Konta Wijayandanu senjata Adipati Karna. Wonogiri-Pacitan-Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung memiliki ciri khas batuan yang hampir sama. Semua wilayah tersebut berada di Bagian Selatan berbatasan dengan Laut Selatan (Samudera Indonesia)

Red Baron (Carnelian Chalcedony) dari Ponorogo bermotif gambar dalam Kembang Wijayakusuma atau Konta Wijayandanu senjata Adipati Karna. Wonogiri-Pacitan-Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung memiliki ciri khas batuan yang hampir sama. Semua wilayah tersebut berada di Bagian Selatan berbatasan dengan Laut Selatan (Samudera Indonesia)

Red Baron (Carnelian Chalcedony) dari Ponorogo bermotif gambar dalam Kembang Wijayakusuma atau Konta Wijayandanu senjata Adipati Karna. Wonogiri-Pacitan-Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung memiliki ciri khas batuan yang hampir sama. Semua wilayah tersebut berada di Bagian Selatan berbatasan dengan Laut Selatan (Samudera Indonesia)

Red Baron (Carnelian Chalcedony) dari Ponorogo bermotif gambar dalam Kembang Wijayakusuma atau Konta Wijayandanu senjata Adipati Karna. Wonogiri-Pacitan-Ponorogo-Trenggalek-Tulungagung memiliki ciri khas batuan yang hampir sama. Semua wilayah tersebut berada di Bagian Selatan berbatasan dengan Laut Selatan (Samudera Indonesia)

Brownish Red Indonesian Fire opal - Flamingo

Brownish Red Indonesian Fire opal – Flamingo

Indonesian Red Fire Opal - Red Baron

Indonesian Red Fire Opal – Red Baron

Red Baron serat Sulaiman, Punggung Kura-Kura dan Cat's Eye, jika dibalik ada Ring-nya

Red Baron serat Sulaiman, Punggung Kura-Kura dan Cat’s Eye, jika dibalik ada Ring-nya

Biru Tinta Baturaja

Biru Tinta Baturaja

Indonesian Amethyst Pangkalan Bun Cutting Brilliant

Indonesian Amethyst Pangkalan Bun Cutting Brilliant

Indonesian Serpentine Aceh

Indonesian Serpentine Aceh

Natural Kualitas Alami

Natural Kualitas Alami

Indonesian Crysopal

Indonesian Crysopal

Negeri Ini Diberkati Tuhan dengan Indonesian Fire Opal Kualitas Tinggi

Negeri Ini Diberkati Tuhan dengan Indonesian Fire Opal Kualitas Tinggi

Ciri Khas Indonesian Fire Opal Greenish Yellow Colour

Ciri Khas Indonesian Fire Opal Greenish Yellow Colour

Indonesian Fire Opal

Indonesian Fire Opal

Indonesian Fire Opal Supernova - Yellow Colour

Indonesian Fire Opal Supernova – Yellow Colour

Permata Negeriku Permata Hatiku

Permata Negeriku
Permata Hatiku

Indonesian Fire Opal Pengklasifikasian atau Penamaan Warna Yellow: SUNFLOWER (Bunga Matahari)

Indonesian Fire Opal Pengklasifikasian atau Penamaan Warna Yellow: SUNFLOWER (Bunga Matahari)

King Keladen Carnelian Chalcedony - Red Baron Koleksi Bapak Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, diberikan saat kunjungan Budaya di Pacitan yang diselenggarakan di Alun-Alun Pacitan 2013.

King Keladen Carnelian Chalcedony – Red Baron Koleksi Bapak Presiden Republik Indonesia DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono, diberikan saat kunjungan Budaya di Pacitan yang diselenggarakan di Alun-Alun Pacitan 2013.

Solomon SBY

Indonesian Chalcedony Cutting

Indonesian Chalcedony Cutting

Precious Indonesia Untreatment Unheated No Dyed 100% Natural

Precious Indonesia
Untreatment Unheated No Dyed 100% Natural

Emas dalam bentuk Batuan, Inilah Kualitas Emas Terbaik (Golden Supreme) King Keladen Chalcedony deposit Pacitan, Jawa Timur

Emas dalam bentuk Batuan, Inilah Kualitas Emas Terbaik (Golden Supreme) King Keladen Chalcedony deposit Pacitan, Jawa Timur

1799906_10203219920079923_343497810_o

PERMATA NEGERIKU PERMATA HATIKU

PERMATA NEGERIKU
PERMATA HATIKU

 

1269523_10201857923630863_2032640175_o

Hijau Pacitan yang dahulu Legendaris diklasifikasikan menjadi Prince Pacitan Chalcedony

Hijau Pacitan yang dahulu Legendaris diklasifikasikan menjadi Prince Pacitan Chalcedony

2 Keladen Toko Bagus 2 IMG_8389

Return of The King

Return of The King

Serikat Buruh (Pekerja) Harus Berhenti Memperbudak Buruh

Serikat Buruh (Pekerja) Harus Berhenti Memperbudak Buruh

(Oleh: Mas Picis Rojobrono)

Siapapun tahu begitu besar iuran Buruh bagi pergerakan perjuangan nasib buruh atau pekerja. Dalam sebulan saja dana yang terkumpul bisa berkisar ratusan juta rupiah, dan dalam tahunan bisa terkumpul milyaran rupiah.

Lalu apakah pemanfaatan dana iuran tadi sudah maksimal. Mari kita revisi lagi penggunaan dana iuran pergerakan Buruh (pekerja).

Gerakan Buruh menjadi salah satu tiang pokok gerakan reformasi di dunia khususnya di Indonesia. Siapapun tahu bagaimana nasib Marsinah yang mati mengenaskan karena menyuarakan nasib kaum Buruh yang selama ini terpinggirkan. Terpinggirkan oleh kepentingan kapitalist yang tidak manusiawi dan kepentingan politik yang terkooptasi kepentingan bisnis.

Pada kenyataannya Serikat Buruh (Pekerja) dalam pergerakannya belum mampu tampil maksimal dalam memanfaatkan Buruh, sebagai pelaku perubahan itu sendiri. Mereka yang mengatasnamakan Pejuang Buruh justru karam atau tenggelam pada mahsyuknya hidup dari Dana Iuran Pergerakan Buruh (Pekerja) sebagai anggota Organisasi Buruh, baik yang independen maupun yang sudah legal terstruktur berdasarkan Undang-Undang.

Gerakan Buruh secara Parlemen pun memiliki strategi perjuangan yang lemah. Partai Buruh gagal dalam meraih konstituen yang berbasis buruh atau pekerja. Gagal dalam meraih tempat di parlemen dan dalam efektifitas bargaining politik memperjuangkan nasib buruh.

Ada sebagian Organisasi Buruh yang sudah mulai rapi dan professional, namun pemanfaatan Dana Iuran Buruh baru sebatas pada jaminan akomodasi dan transportasi Aksi-Aksi Buruh pada Hari Buruh. Dan banyak juga organisasi buruh yang belum professional, dimana solidaritas pada aksi buruh diterapkan dengan paksaan dan ancaman atau pengucilan bagi buruh yang tidak ingin melakukan aksi.

Proses edukasi dan pencerahan pun tidak berjalan, banyak serikat buruh (pekerja) sudah mampu menjamin keberadaannya di setiap perusahaan, namun hanya formalitas belaka. Barisan pengurus mendapat gaji dari dana iuran buruh di satu sisi, di sisi lain dapat “dana” dari perusahaan dan di beberapa kesempatan dapat dana dari politikus baik oposisi maupun yang sedang berkuasa.

Organisasi Buruh (Pekerja) yang bersifat mencerahkan dan memiliki visi atau misi yang terang atau baik, harusnya mampu menghidupi pergerakannya sendiri. Tidak selamanya atau selalu tergantung dari dana buruh. Ada suatu masa bagi anggota buruh atau pekerja yang aktif mengumpulkan iuran mendapatkan reward atau manfaat dari dana iuran yang selama ini mereka kumpulkan.

Perumpamaan, ada beberapa organisasi serikat buruh (pekerja) yang memiliki anggota 25.000 orang dengan iuran per bulan Rp.10.000,- dalam setiap bulan saja bisa mengumpulkan dana iuran sebesar Rp.250.000.000, bila setahun sudah mampu mengumpulkan dana iuran buruh sekitar 3 Milyar rupiah. Lalu dikalikan berapa tahun organisasi serikat buruh (pekerja) tadi berdiri, berapa jumlah yang mampu dikumpulkan?

Dengan dana sebesar itu larut penggunaannya sebagian besar kepada akomodasi dan transportasi aksi buruh yang biasanya sudah jadi upacara regular tahunan. Yakni, setahun sekali. Dan aksi ini tidak efektif atau belum mampu memberikan hasil yang maksimal.

Semestinya serikat buruh (pekerja) lepas dari menerapkan strategi perjuangan atau politrik yang salah. Organisasi buruh (pekerja) justru harus bersifat oportunis dalam artian positif. Yakni memanfaatkan segala lini Faksi atau Partai Politik. Dengan artian siapapun partai yang berkuasa dan dimanapun disitu ada wakil suara Buruh (Pekerja). Misalnya dari seluruh partai yang berhasil meraup suara di Pemilu entah yang berkuasa dan yang oposisi (misalnya 10 atau 20 partai), ada wakil buruh (pekerja) di kesemua partai tersebut. Maka dengan itu siapapun atau koalisi manapun yang berkuasa di Eksekutif maupun Legislatif, sejumlah itu pula wakil buruh (pekerja) ada.

Dengan keterwakilan di setiap partai atau koalisi mayoritas. Masing-masing wakil buruh (pekerja) tadi bisa menghimpun diri bersama menguasai Komisi Tertentu atau Kementerian tertentu yang berwenang menerapkan perundang-undangan buruh (pekerja) baik di segi penyusunannya (eksekutif) maupun di segi pengesahannya (legislative).

Organisasi buruh (pekerja) yang memiliki visi dan misi Merubah Nasib Buruh (Pekerja) juga harus mampu mengentaskan nasib anggotanya agar tidak melulu Menjadi Buruh (Pekerja). Banyak organisasi buruh yang belum memikirkan ke arah itu. Paling efektif sekali Dana Iuran Buruh lari ke pengaplikasian Simpan Pinjam untuk Kepentingan atau Kebutuhan Konsumtif, seperti membeli motor, menikah dan kebutuhan mendesak buruh yang pada kenyataannya kurang efektif dalam merubah nasib buruh secara benar-benar. Tentunya kita tidak ingin Buruh (Pekerja) menjadi buruh atau pekerja selamanya, dimana tidak ada jaminan Pensiun di Hari Tua.

Bagaimana memanfaatkan dana iuran buruh (pekerja) secara maksimal? Banyak sekali yang belum berfikir bahwa dana iuran yang besar tadi bisa dimanfaatkan dalam bentuk pendirian Sarekat Dagang Buruh (Pekerja) atau pendirian Koperasi Buruh yang bersifat Profesional dan Profit Oriented (berorientasi demi keuntungan).

Jika mampu dikelola secara professional, entah itu berupa sarekat dagang atau koperasi tadi yang awal mulanya sudah mampu memberikan keuntungan secara postif. Selain pembagian sisa hasil usaha, maka Laba Usaha itu bisa digunakan untuk Membeli Saham Perusahaan-Perusahaan dimana para buruh itu bekerja. Misalnya saham perusahaan industry ban, sparepart otomotif, pabrik sepatu, perusahaan air minum, perusahaan snack, perusahaan baja, pabrik kertas dan sebagainya.

Yang lambat laun, pembelian saham-saham di beberapa perusahaan yang strategis untung, dapat merubah aturan main di perusahaan-perusahaan yang menghisap buruh (pekerja) tadi menjadi lebih baik. Bisa mempengaruhi perubahan kebijakan di Rapat Para Pemegang Saham, juga peraturan perusahaan yang mengakomodir kepentingan buruh.

Misalnya saja bukan tidak mungkin suatu perusahaan atau pabrik bisa memiliki Tempat Penitipan Anak bagi para buruh yang bekerja yang memiliki anak, Sehingga misalnya saja ada pasangan suami-istri keduanya buruh, yang tidak mampu membayar Asisten Rumah Tangga untuk menjaga anak, bisa dibantu dengan kebijakan yang peka terhadap aspek kehidupan buruh yang menyentuh langsung.

Bisa jadi suatu saat, Pembelian Saham melalui Dana Iuran Buruh mampu menjadikan para buruh menjadi Pemilik Modal atau Penguasa Perusahaan atau Bahasa gaulnya sebagai Pemilik Alat Produksi. Dari Buruh, Oleh Buruh dan Untuk Buruh (Pekerja).