Standarisasi Penilaian Batu Mulia Indonesia Sebuah Upaya Sebagai Panduan. Oleh : Mas Picis Rojobrono (Eko Suryo Putro)

11050644_10206329087727171_4836762390026879370_n

Asosiasi Batu Mulia Indonesia (ABAMI) dengan Menteri Perindustrian Saleh Husein

Assalamualaikum wr wb.

Banyak yang sukar menerima keputusan Juri Kontes dan banyak yang belum memahami apa itu Kontes. Kontes Batuan Indonesia ditujukan sebagai ajang Silaturahmi secara Positif membangun Dunia Hobby Batu Mulia.

Dimana diharapkan dengan Kontes maka ada perbaikan Kualitas dalam penggarapan Batu Mulia, dari gosok polesnya, dari pengemasannya dari banyak hal yang bisa ditingkatkan.

Juara di kontes satu belum tentu juara di kontes lain, Karena di Meja Penjurian saingannya (pesertanya) pun berbeda. Juga Juri yang menilai. Kemudian bagaimana Standard Penilaian.

Standard Penilaian pun beragam, ada yang dikomunikasikan dengan Panitia apa saja Kriteria yang Dilombakan dan ada yang mutlak Keputusan Juri. Apakah sama Menilai Bebatuan Mulia yang sudah lebih dahulu berkembang Kadar Keilmuannya, dengan Bebatuan Mulia Indonesia yang baru berkembang dan masih mencari Standard Kelimuan dan Penilaiannya, tentunya berbeda.

Penilaian Bebatuan yang diterapkan untuk Cutting dengan Cabochon pun berbeda, juga untuk Kelas Fenomena yang beberapa waktu lalu merupakan terobosan di Pacitan diadakan.

Misalnya Kriteria: Color, Clarity, Carat, Cutting bisa diterapkan sebagai Dasar dalam Penilaian beberapa Kriteria Lomba Bebatuan. Namun tidak bisa diterapkan mentah-mentah atau dipukul rata dalam penilaian, dimana Hanya Indonesia saja Sebagai Pelopornya.

Misalnya saja dalam Penilaian Berbeda pada Kelas Fenomena pada Chalcedony, kemudian Kelas Gambar, Kelas Susup, dan Kelas Djunjung Derajat. Pada penilaian kriteria ini maka Penilaian Mounting/Jewel (Ikat) dikesampingkan, karena yang kita nilai ialah Utamanya Ciri Khas pada Batuan tersebut.

Dalam Kelas Fenomena pada Chalcedony kemarin yang dilombakan ialah Kelas Fenomena Punggung Kura-Kura, Fenomena Ring…. ada Kelas seperti Kelas Fenomena Cat’s Eye dan Kelas Pelangi (Iris Agate Chalcedony) yang belum bisa diadakan karena masa persiapan dan Sosialisasinya kurang.
Kelas Fenomena Djunjung Derajat

Yang Dinilai dalam kelas ini ialah utamanya Kejelasan Gambar (Djunjung Derajat) terlebih dahulu, diperhatikan Contrast-nya yang  bagus. Kemudian beranjak Warna, yang dinilai ialah Keindahan/Kompleksitas warna. Bagaimanapun Djunjung Derajat yang baik memiliki komposisi warna yang menarik.

Misalnya menurut kami sesuai Filosofis Djunjung Derajat ialah untuk Menaikkan Derajat Penggunanya, maka Keistimewaan warna-warna seperti Emas atau Garis Emasnya memiliki keutamaan dan energi untuk Kemuliaan pemakainya. Atau warna-warna kuat seperti Merah (Kewibawaan), warna langka seperti Biru (Kedamaian) atau Hijau (Kesejukan).

Kemudian ialah Posisi Gambar (Posisi Djunjung Derajat). Untuk Sudut Djunjung Derajat yang baik ialah bila sudutnya membentuk siku 90 derajat. Tentunya ada pemakluman, asal Garis Naik Derajatnya tidak terlalu Renggang atau tidak terlalu sempit. Juga Rapi antara masing-masing lapisan Garisnya.

Kemudian Jumlah Junjung Derajat, Idealnya ialah jumlah-jumlahnya Ganjil, seperti 3, 5, 7 dan selebihnya, namun ini Tidak Kaku Diterapkan. Kemudian Posisi Potongnya ialah Proporsional di Tengah. Dan Imbang antara bagian bawah gambar dan atas gambar Djunjung Derajat.

Bisa saja garis Genap menjadi pemenang jika memang indah, proporsional dan langka, misalnya sebuah Djunjung Derajat yang imbang, rapi, memiliki warna Emas di sebagiannya, memiliki garis Emas, kemudian terselip garis Biru. ini adalah kondisi yang langka, dengan Artian: Pembentukan warna-warni mineral dalam bebatuan, dengan garis yang Rapi adalah suatu kondisi yang sangat sulit terjadi di Alam.

Kriteria-Kriteria Penilaian ini tidak Kaku Diterapkan, bagaimanapun juga Juri memiliki Pengalaman dan Cita Rasa Seni, dan dengan Dialog, Diskusi atau Musyawarah antar Juri, Penilain bisa berjalan tertib dan dipahami masing-masing Anggota Juri. Kriteria-Kriteria ini kemudian diseleksi dan dipilih oleh Dewan Juri, ada suatu penilaian yang kompleks dalam menyaring para Nominator dan Juara.

 

Kelas Fenomena Punggung Kura-Kura

Pada Kriteria ini yang dinilai ialah serat yang menyerupai fenomena Punggung Kura-Kura (Turtle Shell). Dalam perkembangannya akan bercabang menjadi fenomena Telur Katak, Berawan, 3 Dimensi, Berpelangi, dan sebagai macam.

Lalu bagaimanakah yang dinilai. Tentunya yang dinilai ialah Keunikan, susahnya diketemui (kelangkaannya). Misalnya saja kami menempatkan fenomena Punggung Kura-Kura yang seperti memancarkan sinar 3 Dimensi (3D). Kemudian beralih ke Warna, dimana Komposisi semakin banyak warna semakin menambah penilaian.

Namun penilaian-penilaian ini bisa berubah di setiap Kontes dan Keadaan batu-batu yang naik ke Meja Penjurian. Bukan berarti Fenomena Khusus Kura-Kura harus dipraktekkan Kaku, karena bisa jadi ada juga Punggung Kura-Kura yang membentuk Gambar tertentu seperti Sosok Makhluk Hidup, atau dinilai dari kelangkaan Warnanya sangat sukar menemui Batu Berpunggung Kura-Kura dengan Warna Specifik tersebut.

 

Kelas Gambar  (Tokoh/Manusia/Binatang/Panorama Pemandangan/Huruf/Angka)

Pada Kelas ini sama hampir sama dengan beberapa kelas sebelumnya dimana Ikat (Mounting/Jewel) tidak dinilai. Karena penilaian pada hal tersebut justru akan mengurangi Esensi atau Estetika Seni Batu itu sendiri.

Yang pertama, ialah Kejelasan Gambar. Banyak Kontestan salah menilai darimana Juri Mengambil Sudut Penilaian. Dalam Kelas ini Batu harus dipresentasikan Tanpa Menggunakan Judul. Banyak yang mengira Juri tidak mengetahui gambar, namun pada kenyataannya Juri Memahami. Namun dalam menilai Batu Gambar yang Baik ialah berangkat dari Penglihatan Masyarakat Awam. Yang tidak mengerti Seni atau sudah Dapat Melihat dan Menebak Gambar tanpa memerlukan waktu yang lama. Misalnya mengapa gambar tertentu yang sederhana bisa mengalahkan Gambar yang Kompleks. Karena masyarakat awam sudah dapat menebaknya tanpa memerlukan usaha berlebih. Dari pemahaman inilah Juri berangkat memulai penilaian.

Kejelasan gambar dalam hal ini juga menilai Kontrast-nya gambar dengan Background (ruang warna di sekitar gambar). Jika gambar berwarna Coklat Medium, kemudian sekelilingnya berwarna Coklat Muda maka akan menyulitkan Tertangkapnya Kejelasan Gambar. Atau berwarna Putih, namun sekelilingnya berwarna Putih agak ke warna Krem (Cream).

Kemudian penilaian beranjak kepada Proporsional Gambar. Misalnya saja bila Gambarnya Wajah Manusia atau Kepala Hewan, yang dinilai ialah proporsionalnya bagian wajah atau bagian kepala. Jika Keseluruhan maka yang akan dinilai ialah Proporsional Kepalanya, Lehernya, Rambutnya, Tanduknya, Belalainya, Pundak, Lengan, Tangan, Pinggang, Kaki, Kelengkapan Anggota Tubuh.

Kemudian kepada Komposisi Warna, semakin banyak warna pada Batuan Gambar memberikan Nilai Lebih, namun bukan yang dominan dalam Penilaian.

Lalu beranjak ke Posisi Gambar. Pada penilaian ini dinilai ialah Keutuhan Gambar dan Posisinya. Apakah sempurna terletak di Tengah atau Terpotong Gambarnya. Misalnya mengapa gambar Itik (Anak Ayam) bisa menang disandingkan dengan gambar Ikan Arwana yang sempurna ? Bisa jadi gambar Arwana terpotong, hanya memperlihatkan kepala hingga ke badan, sedangkan ke Ekor Terpotong. Atau misalnya Gambar Ikan Dory Sempurna masih bisa dikalahkan gambar Itik, bisa jadi Ikannya tidak memiliki Proporsi seperti Insang dan Sisiknya ukurannya tidak sesempurna saingannya.

Misalnya saja dalam Menilai Tokoh atau Manusia, apakah Gambar Separuh Badan yang Menang ataukah Gambar yang Utuh. Ini Tergantung Kejelasan Gambar, Kekuatan Garis atau Komposisi Warna dan Posisinya.

 

Kelas Susup (Susup Unik dan Susup Sodo Lanang)

Kelas Susup (Unik dan Sodo Lanang). Pada kelas ini dinilai ialah Kejelasan Gambar Susup, Komposisi Warna, Keunikan atau Estetika Seni, Posisi Susup serta Kelangkaannya (susah ditemui).

Susup pada Batuan Indonesia berkembang sudah lama jauh sebelum masa Trend Batuan menguat. Ada berbagai Fenomena seperti Susup Tunggal, Susup Dua, Tiga dan Lebih banyak lagi.

Pada kelas ini maka yang dinilai paling Utama ialah Keunikan Susup dan Kesempurnaannya. Ada yang unggul karena Susup Tunggalnya membentuk Sebuah Pusaka seperti Pedang, Tombak, Menara, Anak Panah, Bambu, dan sebagainya. Namun ada juga yang unggul dalam Jumlahnya yang lebih banyak dan juga membentuk Gambar seperti Deretan Menara Masjid, Menara Gereja, Gedung-Gedung, Monumen, Sosok Tokoh, dan bermacam juga.

Lalu dimanakah Panduannya. Tentunya agak sedikit sulit, namun pada dasarnya bisa dilihat kepada Kesempurnaan Susup tersebut membentuk sebuah Gambar yang paling utama. Misalnya saja ada Susup yang menang karena membentuk gambar sebuah Hutan Eucalyptus… dimana Susupnya bercabang, rapi, memiliki Dasar Tanah, Warna Kayu yang Putih, serta Dedaunan. Ada yang menang karena Ada Susup Tunggal yang membentuk Gambar Pedang Tiongkok yang Sempurna, dan ada yang menang karena Susupnya membentuk Dua Pohon Cemara yang memiliki Seni dimana satu Pohon berukuran besar dan satu pohon berukuran kecil dengan Jarak dan Proporsional yang Sangat Sempurna.

Tentu saja Yang Dinilai Oleh Dewan Juri yang ada di Meja Penjurian. Dimana panduannya bisa berubah-ubah tergantung diskusi atau Musyawarah Dewan Juri. Dalam memandang segala Aspek dari Susup.

Susup terjadi karena ada rongga di dalam bebatuan yang membentuk relung tertentu. Bayangkan keindahan dan estetika seni karya Pencipta, saat rongga di dalam bebatuan tersebut terisi oleh material lain dan membentuk suatu gambar yang Bahkan Beberapa di Antaranya Demikian Sempurna.

 

Kelas Fenomena Ring

Jika sebelumnya banyak negara dan Asosiasi Batuan Internasional menerapkan Panduan bagaimana sebuah Cutting Brilliant dinilai. Maka ada sebuah Metode Khusus penggosokan Cabochon yang menimbulkan fenomena Ring pada Batuan Chalcedony. Hal ini bisa didapatkan dari Teknik Penggosokan maupun Keistimewaan Bahan Nunggal (Tunggal) yang didapat dari Alam. Biasanya berbentuk Kerikil Tunggal. Pada Penggosokan ini para Perajin memanfaatkan Teknik Mengupas Batu secara perlahan. Sehingga menyertakan sedikit Warna pada Kulit dan Perbedaan pada Warna (Gradasi) dalam menimbulkan Efek Ring.

Sehingga wajar ada Fenomena Ring Tunggal, Ring Ganda (Double), Ring Tiga (Triple). Bahkan ada yang menimbulkan efek Ring dan di dalam Ring ada penampakan Serat Punggung Kura-Kura atau bahkan juga ada yang di Tengah Ring menimbulkan Fenomena Cat’s Eye.

Pada kelas ini yang dinilai ialah Jumlah Ring, Kejelasan Warna Ring dan Keunikannya.

Kelas Anggur Barjad (Fire Chalcedony)
Penilaian pada Kelas Fenomena Anggur Barjad (Fire Chalcedony) ialah tidak terletak pada Clarity dan Colur, namun pada Ciri Keindahan Fenomena Barjadnya (Inden Cahaya) di dalam Anggur.
Misalnya saja kami menggariskan bahwa keutamaan barjadnya ialah Merah, Orange, Kuning dan Putih, setidaknya demikianlah urutannya.

Namun ini Tidak Kaku Diterapkan…. karena selain memiliki Fenomena Barjad, kemungkinan lain ada nilai-nilai plus pada sebuah Chalcedony Barjad. Misalnya saja memiliki juga ciri Serat Kura-Kura atau bahkan Cat’s Eye.

Jadi ada sebuah Kolom Penilaian dalam Setiap Penilaian Seni Batu Indonesia. Dan berbicara seni, tentulah ada Kriteria: “Estetika Seni”.  Dan menurut pemahaman Filosofis Seni, yang sukar dicari standard yang sama dalam setiap benak, namun memiliki Hukum yang bisa dirasakan ialah: “Seni menimbulkan Gairah (Passion) bagi yang yang melihatnya…..” Dan ini merupakan Domain Kemampuan Dewan Juri yang dipercaya memiliki kemampuan dalam hal tersebut.

 

Kelas Batu Mulia Warna Dasar pada Chalcedony

Dasar Penilaian tentunya banyak yang mengerti bahwa secara umum ialah Warna (Colour), Kejernihan dan Kebersihan (Clarity), Berat (Carat) dan Cutting (Penggosokan dan Pemolesan).

Beberapa hal yang ingin saya tambahkan dalam Penilaian Batu Mulia dengan Warna ialah. Pada potongan Cembung (Cabochon). Dunia Batuan Mulia Indonesia tidak bisa menyamakan Penilaian ini hanya didasarkan dengan kriteria tersebut. Ini Dikarenakan: Bentuk dan Sifat dari Pengolahan dengan Bentuk Cembung memunculkan Kilap (Luster) yang agak berbeda dengan ciri Umum yang ditimbulkan dari Bentuk Batu Mulia yang Di Cutting atau Facet Brilliant.

Bentuk Cabochon mencuatkan beberapa Fenomena yang menyerupai Cat’s Eye misalnya. Dan juga pada Batuan Indonesia pada Segi Clarity, saya berpendapat Tidak Bisa menyerap atau menerapkan penilaian kadar Clarity dengan semena-mena. Karena pada Bentuk Cutting yang dicari ialah Kualitas Transparant Bebas Serat. Sedangkan pada Material yang Bersifat Translucent, Serat atau Sidik Jari pada Batu Mulia Indonesia justru menambah Eksotik dan Keunikan Sendiri.

Misalnya saja ada yang Lusternya seperti Cat’s Eye dan ada Luster yang seperti Berapi-Api menyala, atau Fenomena pinggirnya membentuk Cahaya Melingkar atau Ring, dan bahkan ada yang menimbulkan cahaya seperti Barjad atau cahaya dalam yang berwarna Merah, Orange, Kuning atau Putih.

 

Batu Kontes, Batu Kolektor dan Batu Mahal

Banyak para penggemar Batu Mulia Indonesia dan para Peserta Kontes, belum menyadari dan belum bisa memilah. Mana Bebatuan Kontes, Mana Bebatuan Kolektor (Collector Item) dan Batu Mahal.

Batu Kontes yang dicari ialah Kesempurnaan. Bukan Kesempurnaan menurut para peserta, namun Sempurna (secara Subyektif) penilaian oleh Dewan Juri. Dan Dewan Juri terdiri bukan dari satu (1) orang saja. Melainkan beberapa orang dengan latar belakang yang kurang lebih sama, namun memiliki kekhususan sedikit berbeda dan selera yang tidak sama. Oleh karena itu disebut sebagai Dewan Juri.

Banyak yang tidak terima Batu A atau B juara di Jakarta, namun ketika dilombakan di Surabaya atau Medan kalah. Atau Batu yang Juara di Tingkat Nasional bisa dikalahkan dengan Batu Lain di tingkat Kabupaten. Bahkan Peringkatnya bisa berbalik Batu A juara 1 di kontes di Kalimantan dan Batu B nominasi, di Batam Batu A jadi nominasi  dan yang B malah jadi Juara 2.

Maka kita harus Arif dan Bijaksana serta harus Memahami, bahwa Tempat berlangsungnya kontes berbeda, waktu pelaksanaan berbeda ini berarti bisa jadi batu yang bagus-bagus belum tentu diikutkan semua pada kesempatan yang sama di kontes tertentu, susunan Dewan Juri-nya berbeda, otomatis memiliki dasar Panduan Penilaian Berbeda.

Batu Kolektor yang dicari ialah Kekuatan Tema. Biasanya Keunikan atau Kelangkaan Fenomena atau Gambar yang sebenarnya memiliki suatu Nilai Yang Sulit Diukur. Dikarenakan dirasakan berbeda-beda oleh para kolektornya. Misalnya di suatu kontes gambar Naga Hijau Lumut dikalahkan oleh gambar Ikan Arwana yang melalui penerapan penilaian kontes memang menang. Namun dalam kelangkaanya gambar Naga ini tadi menang sehingga untuk Koleksi harganya lebih mahal, walaupun dalam kontes Kejelasan, Proporsi Warna dan Posisi gambar dikalahkan. Ini tentu menyangkut penghargaan dalam Hobby yang Tidak Bisa Diberikan Standard. Menyangkut selera tertentu yang merasakan Kaitannya dengan gambar tersebut.

Batu Mahal, tercipta dari Kelangkaan Bebatuan. Hal ini menyangkut banyaknya permintaan dan kurangnya pasokan. Mahal namun dalam kontes tidak bisa menjadi Juara, bisa jadi memenuhi selera kolektor.

 

PENUTUP

Tentunya semua Dinilai dan Dikoreksi serta mengalami Proses Diskusi antar Dewan Juri. Karena Penilaian Tanpa Komunikasi Lebih mendorong Penilaian Menuju Target yang Keliru dan tidak semata bisa didasarkan pada Angka yang Kaku (ada dialog dalam memberikan nilai).

Musyawarah Dewan Juri. Dalam Penilaian saya lebih memilih Proses Dialog Terbuka Antara Dewan Juri. Agar Sepakat dan Dapat Dipertanggungjawabkan Bersama Hasil Penilaiannya. Tidak ada Penilaian Terpisah atau Salah Seorang Juri Memiliki Hak Veto.

Mengapa Standarisasi Penilaian Batu Mulia Indonesia masih berbeda-beda. Sesungguhnya kita harus bersyukur, dalam rentang jangka waktu 2012 hingga 2015 ini, dalam waktu yang sangat singkat betapa menakjubkan Animo dan Perkembangan Batu Mulia Indonesia melewati Beberapa Tahap Yang Menakjubkan.

Sehingga kita masih perlu dan sabar menunggu proses yang berlaku di lapangan dan dibalik meja. Bahwa perkembangan ini tengah kita letakkan Pondasi-nya. Dimana banyak Ketimpangan ilmu Pengetahuan dan Penggiringan Selera yang terjadi pada tingkat Internasional belum dapat dipenuhi.

Kita harus bangga, justru Seni Batu Mulia tengah mengalami perubahan yang dimulai dari Indonesia, dimana memiliki Pangsa Pasar yang besar. Memenuhi bidang Keilmuan dan Seni Batu Mulia yang kosong tidak diindahkan Dunia. Kita Dunia Batuan Mulia Indonesia yang memulai Seni Batuan Gambar, berbagai macam Fenomena pada Chalcedony, Keindahan Komposisi Warna yang Proporsional maupun Abstrak.

Ini menunjukkan Cita Rasa, Seni Budaya yang ditanamkan Tuhan Pencipta kepada para Perajin, Pelaku dan Penikmat Seni Batu Mulia yang sebenarnya Telah Melampaui Pemahaman Internasional.

Dan Itu Bermula dari Komunitas Batu Mulia Indonesia.

Wassalamualaikum wr wb.

Salam Asti Anindya Nusantara – Viva Precious Indonesia

*Asosiasi Batu Mulia Indonesia (ABAMI)

Pencatatan Penamaan dan Pengklasifikasian Batuan Nusantara (PPPBN)

Precious Indonesia (Permata Indonesia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s