Fenomena Ring Pada Indonesian Chalcedony By Jesse Taslim GRI (GIA Alumnus)*

Jesse Taslim GRI Lab (GIA Alumnus)

Jesse Taslim GRI Lab (GIA Alumnus)

Ketika mengunjungi sebuah kontes batumulia di pulau Borneo, ada seseorang yang menyapa untuk mengenalkan sebuah ‘varian’ baru dari Chalcedony yang memiliki ‘fenomena’ seperti ada lingkaran di daerah girdle (pinggang). Namanya mas Ari atau lebih dikenal dengan Ari Kandidat, dengan antusiasnya beliau memberikan penjelasan mengenai bagaimana fenomena ini bisa muncul di Chalcedony dan cukup membuatku tertarik untuk memiliki dan menganalisanya.

Ari Kandidat dari Pacitan, Jawa Timur

Ari Kandidat dari Pacitan, Jawa Timur

Fenomena O Ring pada Pacitan Chalcedony Supreme Sunset

Fenomena O Ring pada Pacitan Chalcedony Supreme Sunset

Kurang lebihnya mas Ari menjelaskan bahwa spesimen ini sama dengan varian yang bisa menghadirkan fenomena ‘Chatoyancy’ di Chalcedony, namun dipoles dengan metode yang berbeda, kemungkinan perbedaannya di arah mana inklusi di dalam dan bagaimana menghadapkan table/meja Chalcedony ini.

12884490_1285503084811146_1730978312_n
Sepulangnya dari Borneo, sekitar 1 minggu setelah pertemuan tersebut, aku di tag di Facebook oleh seorang yang bernama Rinanto Dwi Hantoro, dan kebetulan postingannya juga mengenai fenomena O-RING diCHALCEDONY, sehingga membuat saya lebih bersemangat lagi untuk membuat artikel mengenai fenomena ini.

12380602_1285503031477818_881405993_n

Akhirnya dengan pengharapan yang tinggi, saya meminta beliau untuk menuliskan bagaimana gambaran sebagai pelaku pasar dalam menguraikan fenomena ini, dan akhirnya beliau pun bersedia dan ulasannya dapat dibaca dibawah:

Rinanto Dwi Hantoro, SH. Bendahara Umum Precious Indonesia, Perajin dan Seller

Rinanto Dwi Hantoro, SH. Bendahara Umum Precious Indonesia, Perajin dan Seller


Ulasan dari Rinanto Dwi Hantoro
Seiring perkembangan kemajuan perbatuan di tanah air, hadir satu jenis batuan lokal yang dimodifikasi sehingga terlihat sangat unik. Para gemslover tentu telah sering mendengar, melihat, bahkan sampai dengan menjadikan batu jenis ini sebagai bagian dari koleksi pribadinya. Biasa disebut Chalcedony Fenomena O-Ring (Know as ” Keladen Fenomena O-Ring ” in the trade Indonesia Local Market ).

12421442_1285499468144841_1733832956_n

Dalam tekhnis penggosokannya tergolong memiliki tingkat kesulitan tersendiri dibanding bentuk (shape) gosokan batu yang sudah pernah ada sebelumnya. Secara tekhnis dalam penggosokannya memerlukan keahlian ataupun ketelitian yang cukup tinggi.

Deskripsi batu jenis ini adalah:
– Berbentuk bundar yang simetris dengan kubah bagian atas dan bawah (Double Cabhocon);

– Terdapat bias sinar /cahaya yang tajam di sekelilingnya, terlihat seperti penampakan fenomena gerhana matahari (untuk Yellow, Orange, Red Chalcedony); dan tampak seperti fenomena gerhana bulan (untuk White/Colorless Chalcedony).

– Untuk fenomena O-Ring tersebut terbagi menjadi 2; yakni Single O-Ring dan Double O-Ring. Yaitu terdapatnya satu garis tajam yang menyala dan mengelilingi tepi batu (Single O-Ring). Dan terdapat dua garis tajam yang menyala dan mengelilingi tepi batu bagian terluar dan bagian dalam yang tampil berdekatan dan berdampingan (Double O-Ring).

12380602_1285503031477818_881405993_n

Seiring waktu berjalan maka saya mencoba untuk membuat fenomena “Triple O-Ring” dengan tampilan yang baru dengan harapan bisa menggugah selera pasar agar tidak terlihat seperti monoton. Mengenai bahan baku tersebut biasa digunakan jenis Chalcedony dengan tingkat clarity yang cukup baik. Artinya semakin tinggi tingkat clarity nya maka semakin maksimal pula fenomena O-Ring yang dihasilkan.

Untuk menghasilkan bias cahaya/fenomena O-Ring yang berkualitas yaitu bahan yang bebas dari serat ‘kura-kura’ maupun serat ‘sulaiman’ (para gemslover pastinya sudah paham istilah ini).  Ini menjadi syarat mutlak untuk menghasilkan fenomena O-Ring yang maksimal (menurut pengalaman pribadi).

12498944_1285503564811098_1447594091_n

 

Beberapa cara atau tekhnis penggosokan/pemolesan batu tersebut adalah:

– Untuk bahan yang mengandung genggang dalam pembuatan fenomena O-Ring ini biasanya pada saat pemotongan bahan (membuat pola kasar) maka arah genggang dikondisikan mendatar (horisontal) dan biasanya diposisikan di bawah, biasa tekhnik ini disebut dengan istilah “karpet” (di Pacitan Jawa Timur), dengan orientasi tetap menimbulkan fenomena O-Ring walaupun pada bahan yang beserat kura-kura.

12207619_10204717693697250_668646470_n

– Namun ada juga yang menyisakan genggang/serat sulaiman di bawah batu setipis mungkin, terlihat seperti satu lapisan/layer tipis yang sengaja dibiarkan tanpa bertujuan untuk menghilangkannya –> istilah “karpet”, orientasinya untuk menimbulkan efek/fenomena Double O-Ring dengan 2 warna sinar ring yang berbeda.

12067118_1285631868131601_577736337_n

Misalkan ingin membuat fenomena O-Ring terluar adalah warna orange dan O-Ring bagian terdalam adalah berwarna putih. Pada contoh tekhnik ini biasanya menggunakan bahan putih atau bahkan colorless yang mempunyai sebidang layer/lapisan warna lain di permukaan bawah batu dengan dimensi lapisan/layer yang cukup kecil dan juga tipis. Layer/lapisan warna ini sengaja tidak dihilangkan, dengan orientasi menghasilkan fenomena O-Ring berwarna orange di bagian tepi terluar batu. Tentunya fenomena O-Ring yang berwarna putih akan berada di bagian dalam.

12804415_10204717698497370_570262602_n

Tidak menutup kemungkinan untuk yang berserat kura-kura juga bisa dibuat fenomena O-ring dengan syarat tetap harus menggunakan bahan yang cukup bening (tingkat clarity nya cukup baik). Tingkat clarity pada bahan yang baik tentunya akan menghasilkan fenomena O-Ring yang cukup baik pula.

12476078_1285631841464937_676470155_n

Demikian ulasan mengenai fenomena O-Ring Chalcedony dari mas Rinanto, tidak menutup kemungkinan akan adanya penambahan keterangan, dimana kebetulan fenomena ini cukup baru ditemukan dan sedikit saya ingin tambahkan foto-foto inklusi dari sample yang saya dapatkan.

Inklusi pada Fenomena O Ring pada Indonesian Chalcedony (sample King Keladen Chalcedony - Pacitan Jawa TImur)

Inklusi pada Fenomena O Ring pada Indonesian Chalcedony (sample King Keladen Chalcedony – Pacitan Jawa TImur)

a654-20160321_115059 a656-20160321_115329 a659-20160321_115447 a661-20160321_115518 a663-20160321_115611
Inklusi heat wave (saya menyebutnya demikian) adalah inklusi yang memang didapatkan dalam Chalcedony yang memiliki ‘fenomena’ cats eye maupun ‘O-Ring’ Sesuatu yang ‘seragam’ di dalam sebuah media, jika di sorot sinar cahaya, maka biasanya akan memantulkan lagi, Jika pemotongannya memang pada tempatnya, maka bisa mnghadirkan sebuah ‘fenomena’ tinggal inklusi tersebut, apakah termasuk yang lumrah atau tidak.

Jesse Taslim from GRI Lab (GIA Alumnus)

Jesse Taslim from GRI Lab (GIA Alumnus)

Jesse Taslim (Divisi Litbang Precious Indonesia)

Born in 1978 and has been with the gemstone business since 1998. He has visited the countries that are considered as the center of World’s gemstone such as Sri Lanka, Burma, and Bangkok. After having experience with gemstone for 12 years, he becomes a very qualified gem dealer who understands very well the market in Indonesia. He decided to intensify his knowledge in Gemology by enrolling in GIA Bangkok with his partner Mr. Adam Harits and Mr. Mingma Sherpa and graduated from GIA on campus program education on 2011. Apart from that he has also been appointed as editor for several books which discuss gemstone thoroughly, writes article in tabloids and surely he is well experienced in market and educative in gemology.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s